NGOPI Soal Batu Kali Dicat, Harus Ada Solusi dari Masyarakat Pengelola Wisata

NGOPI Malang - Sungai Amprong di Malang lagi jadi kontroversi. Sebab, kerikil kali di sana dicat berwarna-warni. Pihak pengelola, masyarakat dan pemerintah harus mencari solusi.
Sedaer River Tubing (suatu operator wisata minat khusus) kini jadi sorotan. Pasca adanya bebatuan warna di pemikiran Sungai Amprong, lokasi dimana wisata tubing yang mereka kelola. Lantas apa kekerabatan Sedaer dengan bebatuan warna warni itu?
detikTravel mencoba menemukan letak dimana Sedaer River Tubing berada, untuk menanyakan keterkaitan pengecatan bebatuan itu. Mengacu pada panduan alamat, Sedaer masuk wilayah Dusun Kunci, Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Atau sisi timur dari jantung Kota Malang, menuju Sedaer ialah jalan yang sama ketika wisatawan akan berkunjung ke Gunung Bromo melalui jalur Gubukklakah.
Pemandangannya memang luar biasa, hutan nan asri, tanaman selada air yang luas di ketinggian 800 Mdpl, membawa Sedaer River Tubing berbeda dengan area tubing lainnya.
Sayangnya, detikTravel tak berhasil menemui pengelola, base camp Sedaer River Tubing di lereng Gunung Semeru itu, ketika didatangi, Senin (16/10/2017). Suasananya sepi.
Bila melihat lagi, pro kontra kerikil kali dicat di sana bermula pada postingan akun Sandyfreaks rock dalam laman media sosial. Di sana akun Shuvia Rahma menanggapi kritikan pedas soal pengecatan bebatuan di rute tubing yang dikelola. Shuvia sendiri merupakan salah satu pengelola dari Sedaer River Tubing.
Shuvia balasannya menawarkan tanggapan panjang yang ditulis dalam komentar postingan itu. Berikut petikannya:
'Matur nuwun untuk para senior, baik dari para pencetus lingkungan maupun operator wisata minat khusus. Matur nuwun juga untuk mas okta yang sudah share berita.
Yang mau saya sampaikan, mumpung para senior ada di sini. Ide mewarna kerikil memang kontroversial, saya sendiri juga nggak sreg. Secara bisnis, sedaer river tubing pun selling point-nya ialah kealamian, justru kontradiktif dengan kondisi sekarang.
Rinciannya kira-kira menyerupai ini:
1. Ada praktik penambangan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan
2. Sudah terjadi kerusakan lingkungan karena penambangan
3. Tanah longsor, arus sungai berubah, kerikil besar nyaris habis
4. Penambang kebanyakan warga sekitar. Sedaer River Tubing juga didominasi warga sekitar.
5. Langkah pelarangan yang ekstrim mampu menyebabkan ukiran tajam antar warga. Dan itu tidak boleh terjadi. Kalaupun kami melarang, kami harus menyiapkan mata pencaharian pengganti yang minimal hasilnya setara karrena penambang lebih banyak didominasi ialah para kepala keluarga yang harus menghidup anak istri. Pekerjaan pengganti ini yang kami belum sanggup.
6. Konsultasi dengan pihak terkait (camat, kepolisian). Hasil: nihil
7. Mengikutsertakan para penambang yang notabene warga setempat untuk jadi guide river tubing. Tapi tak banyak yang bergabung karena penghasilan mereka dari menambang lebih besar.
8. Melakukan pendekatan personal, meminta mereka tidak asal cari kerikil dengan alasan biar tanah nggak longsor. Ini cukup berefek meski hanya ke beberapa orang.
9. Meminta penambang nggak ambil kerikil minimal di jalur tubing. Ini juga hanya ngefek ke 1-2 orang
10. Memperbanyak tugas ke masyarakat. Mulai acara pemberian santunan hingga baksos pengobatan gratis. Harapannya mereka makin kenal Sedaer River Tubing, sehingga ada pertolongan dari mreka terutama untuk urusan kelancaran di sungai.
Nah dari hal itu, kami menyadari bahwa mewarnai kerikil ialah kesalahan besar. Namun tak disangka, wangsit dari para guide itu cukup efektif. Karena ternyata orang-orang tak lagi menambang di area itu.
Kami pun takk berencana memperpanjang pewarnaan itu, karena bikin mata sepat. Setidaknya ketika warna memudar, kami berharap penambangan sudah berhenti.
Itu ialah pendekatan yang kami lakukan. Mungkin ada advokasi lain yang mampu dishare. Saya pikir pendekatan lingkungan juga harus dibarengi pengetahuan sosio kultural masyarakat untuk memecahkan duduk perkara ini, mengingat ada manusia-manusia yang terlibat didalamnya. Hal ini penting untuk menghindari ukiran antar warga.
Jika ingin lebih detil, teman-teman pengelola Sedaer River Tubing siap mendapatkan diskusi bareng para senior di basecamp. Jika perlu, digelar sarasehan, undang para stake holder mulai dari masyarakat, pemerintah, pencetus lingkungan, hingga kepolisian. Kalaupun skala kecil juga nggak masalah. Para senior sama warga setempat. Siapa tahu solusi yang keluar mampu diterapkan di daerah lain mengingat permasalahan penambangan tidak pada tempatnya juga banyak terjadi di wilayah lain, termasuk di Batu yg notabene daerah wisata.
Sekali lagi, terima kasih banyak atas perhatian yg diberikan para senior dan mohon maaf atas ketidaknyamanan yg muncul.'
Berarti jikalau ditarik kesimpulan, kerikil yang dicat warna-warni tersebut bertujuan semoga para penambang tidak lagi 'menghabiskan' batu-batu kali di sana. Namun dengan melaksanakan pengecatan, juga dinilai beberapa netizen ialah cara yang kurang tepat. Maka oleh alasannya ialah itu, pihak Sedaer River Tubing, pemerintah setempat dan masyarakat di sana harus duduk bareng mencari solusi.
Saat dikonfirmasi detikTravel, Shuvia Rahmah, Public Relation Sedaer River Tubing tak begitu menanggapi.
Komentar
Posting Komentar